Belajarlah dari Kematian Mendieta

Jakarta, Kompas – Kematian pemain Persis Solo, Diego Mendieta, seharusnya menjadi pelajaran bagi klub-klub sepak bola di Indonesia untuk membenahi manajemen, khususnya pengelolaan finansial. Pemain asal Paraguay itu meninggal dalam keadaan sakit dan tidak memiliki uang untuk biaya pengobatan karena gajinya belum dibayar oleh klubnya.

Mendieta adalah pemain asing kedua yang meninggal tahun ini. Dua bulan lalu, pemain asal Brasil, Bruno Zandonadi, meninggal karena kanker otak. Zandonadi yang pernah membela Persita Tangerang dan Persikota Tangerang meninggal dalam posisi tidak terikat kontrak dengan klub.

Sementara itu, Mendieta masih terikat kontrak dengan klub Persis Solo yang berkompetisi di Divisi Utama yang dikelola oleh PT Liga Indonesia.

Fabio Oliviera, mantan pemain profesional asal Brasil yang kini menjadi asisten pelatih tim nasional Indonesia, Rabu (5/12), menegaskan, dalam kontrak pemain dengan klub biasanya ada klausul mengenai jaminan kesehatan dan asuransi. Namun, isi kontrak itu jarang dijalankan oleh klub.

”Hak-hak mereka (pemain) yang ada dalam kontrak harus diawasi oleh PSSI, jangan sampai terjadi lagi seperti ini. Jangan sampai ada Bruno-Bruno lain atau Mendieta-Mendieta lain,” tegas Oliviera.

Pembayaran gaji pemain asing dan lokal, lanjut Oliviera, juga sering terlambat.

”Banyak klub di liga kita ini sebenarnya tidak layak ikut kompetisi. Padahal, ada syarat kelayakan dari AFC (Konfederasi Sepak Bola Asia),” tegas Oliviera.

Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Alifian Mallarangeng menegaskan, dia sedang meminta laporan lengkap tentang kematian Mendieta. Ia juga meminta pengelola liga mengevaluasi klub-klub peserta kompetisi. Klub-klub yang tidak memenuhi syarat profesional tidak boleh ikut kompetisi.

”Kalau tidak bisa jadi tim profesional, jadi tim tarkam (antarkampung) saja, jangan ikut liga,” tegas Andi.

Manajemen klub

CEO PT Liga Prima Indonesia Sportindo, yang mengelola Indonesian Premier League, Widjajanto menegaskan, agar kasus Mendieta tidak terulang, mulai musim depan syarat peserta liga akan diperketat.

Klub-klub peserta harus menjalankan aturan salary cap atau pembatasan gaji pemain dan menyetor dana kepesertaan. Dana itu bisa dicairkan oleh klub jika di tengah musim klub mengalami kendala finansial.

”Apa yang selama ini kami khawatirkan benar terjadi. Klub tidak mampu karena besar pasak daripada tiang. Kami dulu mengusulkan ada salary cap dan klub membayar dana partisipasi supaya tidak terjadi hal seperti ini,” ujar Widjajanto.

CEO PT Liga Indonesia, yang mengelola Indonesia Super League, Joko Driyono menilai klub-klub saat ini sedang belajar mandiri. Perjuangan klub untuk bertahan hidup itu harus diapresiasi karena tidak mudah. Nilai finansial yang diterima klub masih kecil dan belum bisa dikatakan sebagai industri olahraga.

”Jangan terlalu cepat mengatakan klub tidak profesional. Klub saat ini sedang belajar secara alami untuk survive (bertahan hidup),” ujar Joko. (ANG)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s