Istana Diserang, Presiden Mursi Janji Tindak Tegas

KAIRO, KOMPAS.com — Presiden Mesir Muhammad Mursi menegaskan, aparat keamanan akan “bertindak dengan ketegasan penuh” untuk melindungi gedung-gedung pemerintah ketika para demonstran terlibat bentrok dengan polisi di luar istana kepresidenan Ettihadiyah di Kairo, Jumat (1/2/2013).

Dalam sebuah pernyataan di laman Facebook-nya, Mursi menyatakan akan “menuntut tanggung jawab” kelompok opisisi yang berada di balik kekerasan tersebut.

Disebutkan pula bahwa para demonstran mencoba menerobos gerbang istana dan memanjat dindingnya. Mursi menuntut oposisi menentang kekerasan tersebut dan meminta para pengikutnya mundur.

Kelompok oposisi yang menamakan diri Front Penyelamatan Nasional, yang menyerukan demonstrasi tersebut, mengatakan tidak terlibat sama sekali dengan dengan massa yang tiba-tiba muncul di depan istana presiden.

NSP juga mengecam segala bentuk kekerasan dan mendesak aparat keamanan untuk bertindak “dengan pengendalian penuh” terhadap para demonstran.

Seusai shalat Jumat, massa mendatangi Istana Ettihadiyah, kediaman resmi Presiden Mesir. Mereka meneriakkan yel-yel antipemerintah, juga melontarkan bom molotov serta batu ke halaman istana.

Aksi mereka memicu bentrokan dengan kepolisian yang menggunakan water cannon dan melepas tembakan ke udara untuk menghentikan aksi massa.

Ratusan pengunjuk rasa itu bertekad menduduki istana sampai semua tuntutan mereka dipenuhi.

Beberapa spanduk yang diusung pengunjuk rasa antara lain bertulis “Ganti penguasa dengan Pemerintah Penyelamat Bangsa,” dan “Ganti Konsitutusi Bentukan Ikhwanul Muslimin.”

Selain di Istana Ettihadiyah, unjuk rasa yang berjulukan “Jumat Terakhir” merebak juga di Bundaran Tahrir di pusat kota Kairo dan sejumlah ibu kota provinsi seperti di Iskandariyah, Port Said, Terusan Suez dan Ismailiyah.

Ratusan pemuda berpakaian hitam pada Jumat petang juga mendatangi Gedung Majelis Syura (MPR) di dekat Tahrir dan menyatakan akan mendudukinya hingga tuntutan mereka dipenuhi.

Unjuk rasa ini merupakan rentetan dari aksi serupa sejak peringatan HUT ke-2 Revolusi 25 Januari pada Jumat lalu dan berlanjut dalam sepekan terakhir yang menewaskan lebih dari 50 orang dan ratusan lagi cedera akibat bentrokan dengan aparat keamanan.

Bentrokan terparah terjadi di kota Port Said, Terusan Suez, dan Ismailiyah. Aksi kekerasan itu memaksa Presiden Moursi memberlakukan jam malam selama satu bulan di ketiga kota tersebut.

Sementara itu, Ikhwanul Muslimin yang mendukung Presiden Mursi tidak berniat turun ke jalan membela pemerintah.

“Kami menahan diri untuk turun ke jalan dan meminta oposisi agar berunjuk rasa secara damai tanpa perusakan,” ujar Essam El Ariyan, petinggi Partai Kebebasan dan Keadilan, sayap politik Ikhwanul Muslimin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s