WATU KAMEYA KAKASKASEN TOMOHON

Pada zaman dahulu sempat terjadi perebutan kekuasaan antara kedua penguasa gunung yakni Gunung  Lokon penguasaannya Pinontoan dan Gunung Mahawu adalah Rumengan. Perebutan kekuasaan awalnya dari perebutan seorang wanita yang bernama Katiwi Ambilingan sehungga pada waktu perebutan maka kedua belah pihak saling menyerang, Pinontoan menyerang berupa dengan bebatuan sedangkan Rumengan menyerang dengan abu dan air lumpur. Dalam pertempuran saling menyerang ini kedua-duanya tidak ada yang menang maupun kalah. Akhirnya kedua belah pihak yang bertikai saling bermusyawarah untuk menentukan batas Wilayah kekuasaan masing-masing. Maka Pinontoan dan Rumengan bertemu dan menetapkan keputusan bahwa batas atau sipat Wilayah kekuasaan masing-masing adalah di WATU KAMEYA, yang berlokasi sekarang di sebut TAINGKERE. Sebenarnya antara kedua Wilayah, dam kedua kelompok yang bertikai ini bertemu dan menentukan serta melakukan suatu sumpah bahwa bilamana kedua belah pihak melakukan penyerangan. Serangan tersebut hanya sampai di batas atau sipat yang sudah ditentukan yakni yang di namakan WATU KAMEYA yang sebenarnya adalah asal kata Tombulu Kai = kami, meye = datang .Jadi kameya hanya terjadi perubahan bahasa pada waktu pendudukan Belanda masuk Minahasa. Karena orang belanda tidak biasa menyebutkan dengan benar bahasa Tombulu.
WATU KAMEYA merupakan tempat bertemu atau datang kedua kelompok yakni antara keturunan Pinontoan dan keturunan Rumengan dan sampai sekarang mempunyai suatu bukti wilayah batas Pinontoan terdapat bebatuan yang memanjang dari arah selatang ke utara, dan wilayah batas Rumengan  hanya terdapat tanahan asal dari abu dan lumpur tadi.
Batas atau sipat kedua tadi biasa di lihat Watu Kameya. Batas ini sudah menjadi sebuah kali atau sungai selain dibatasi dengan pagar bebatuan memanjang dan tanah tebing. Pada waktu terjadi penyerangan inilah sehingga di batas wilayah ini mengeluarkan banyak sumber mata air akibat batu-batuan yang di serang membongkar tanah yang ada di batas tersebut. Dan mata air yang keluar didatangi oleh penguasa Gunung Lokon yakni Pinontoan  dalam bahasa Tombulu = Kameya untuk memanfaatkan air ini untuk tujuan-tujuan tertentu  selain untuk keperluan hidup sehari-hari. Selain itu pula tempat ini merupakan tempat ritual para keturunan Pinontoan. Sejak mulanya mata air terbuka, dan air ini benar-benar jernih serta sumbernya sangat banyak dan tersebar di wilayah kinaskas. Mata air yang keluar adalah sepanjang bebatuan tepatnya di bawah bebatuan itu , sampai saat sekarang kita biasa melihatnya. Mata air di sini sampai sekarang kebanyakan orang kakaskasen masih bergantung pada air tersebut baik untuk air minum maupun mandi. Di WATU KAMEYA inilah di namakan KEBUN TAINGKERE yang artinya air yang tercampur dengan warna kekuningan. Karena kelompok keturunan Pinontoan merupakan kelompok pengrajin batu. Jadi memang benar pada Zaman dahulu keturunan atau kelompok  Pinontoan adalah orang-orang pengrajin batu.  Di sepanjang WATU KAIMEYA tidak jauh terdapat pula WATU WULU karena pada zaman itu di WATU WULU banyak terdapat WATU KAMEYA. Seperti sarang. Demikian juga di WATU KAMEYA terdapat batu berbentuk Waruga dan penutup waruga merupakan inspirasi atau contoh sebelum pembuatan waruga-waruga saat itu. Di WATU KAMEYA banyak terdapat batu-batu yang berbentuk berupa BATU TUMOTOWA . di samping batu kameya terdapat pula batu dari Dotu Cina yang berbentuk kura-kura lagi menjunjung manusia. Di zaman itu pula di tempat ini sering diadakan atau perundingan-perundingan. Dan pada waktu masuknya diwilayah ini pengrajin batu orang keturunan Bantik maka tempat ini merupakan tempat berkumpur dan bersaru para  Leluhur  untuk melawan orang-orang bantik. Makanya tidak jauh dari tempat ini terdapat daerah-daerah yang dilakukan untuk pembantaian orang bantik, seperti Rano Lewo, Talumengan sampai yang namanya kumentur terpatnya yang bernama Tihis Wuntu bersebelahan dengan kampung tua  Nawanua berdekatan dengan 3 batu bakumangada yang disebut WATU PAHSARUAN. Jadi setelah masuknya orang-orang dari bantik maka kedua kelompok yang bertikai antara keturunan Pinontoan dan keturunan Rumengan berkumpul dan bersatu di WATU KAMEYA yang juga adalah batas atau sipat. Di WATU KAIMEYA inilah yang merupakan tempat bersejarah paling penting . selain untuk tempat pertemuan ritual-ritual budaya maupun tempat berkumpul antara kedua kelompok tadi yang bertikai akhirnya bersatu dan mengusir orang-orang Bantik yang sudah masuk di wilayah khususnya kinaskas. Ditempat ini pula sampai sekarang merupakan tempat ritual para tonaas-tonaas atau tua-tua kampung secara turun-temurun baik untuk mengenang sejarah tempat ini maupun untuk kepentingan-kepentingan adat. Dan sampai saat bila terjadi letusan baik Gunung Lokon maupun Mahawu hasil letusan tidak ada yang melewati batas atau sipat yang sudah  disepakati dan si sumpahkan dalam pertemuan ini.
Demikian sekilas sejarah adanya WATU KAMEYA KINASKAS dan juga mata airnya, lokasi ini berada di bawah kaki lereng gunung lokon tepatnya yang dinamakan kebun taingkere jalan menuju lokasi galian batu kelurahan kakaskasen 1 kecamatan Tomohon utara.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s