Mengapa Paus Berikutnya Harus Orang Afrika?

Tak ada keharusan bahwa paus atau pemimpin Gereja Katolik dunia berikutnya, yang akan menggantikan Paus Benediktus XVI yang secara mengejutkan telah mengumumkan pengunduran dirinya, harus dari Afrika. Namun, begitulah Stan Chu Ilo, professor bidang agama dan pendidikan, di St Michael’s College, Universitas Toronto, Kanada, memberi judul artikel di situs berita CNN, Rabu (13/2/2012). Ilo telah menulis sejumlah buku antara lain The Face of Africa: Looking Beyond the Shadows dan The Church and Development in Africa: Aid and Development from the Perspective of Catholic Social Ethics.

Ia memulai artikelnya dengan komentar Kardinal John Onaiyekan dari Abuja, Nigeria, dalam sebuah perayaan Black History Month di Toronto, minggu lalu. Ketika itu, Onaiyekan ditanya apakah dirinya berpikir bahwa sudah tiba waktunya bagi seorang paus dari Afrika. Pertanyaan itu diajukan sebelum Paus Benediktus mengumumkan pengunduran dirinya.

Di hadapan 500 umat Katolik keturunan Afrika dalam perayaan itu, Onaiyekan mengatakan, “Waktu bagi seorang paus dari Afrika sudah tiba, bahkan pada saat para Bapa Apostolik pada abad pertama gereja. Saya tidak sedang mengatakan bahwa saya ingin agar dipertimbangkan untuk menjadi seorang paus, tetapi kenyataannya bahwa Injil harus diwartakan kepada semua bangsa, bahasa, dan ras. Itu berarti bahwa pimpinan tertinggi gereja harus terbuka kepada siapa pun dari ras, bahasa, dan bangsa apa pun. Saya tidak akan terkejut saat melihat ada paus orang Afrika dalam hidup saya.”

Seminggu kemudian, Paus Benediktus XVI secara mengejutkan menyatakan akan mundur dari jabatannya pada 28 Februari ini. Peluang terpilihnya seorang paus dari Afrika pun terbuka dalam konklaf (sidang para kardinal untuk memilik paus) pada Maret mendatang.

Bagi banyak umat Katolik, dari mana seorang paus berasal mungkin tidak sama pentingnya dengan siapa paus itu. Namun, bagi banyak umat Katolik Afrika, tulis Ilo, terpilihnya orang Afrika sebagai paus akan menjadi sebuah tanda yang indah bahwa Gereja Katolik Afrika telah matang dan mereka berharap seorang paus dari Afrika akan membahas secara tepat tantangan khusus yang dihadapi Afrika dewasa ini dan mengintegrasikan budaya Afrika dan sejumlah prioritas sosial-ekonomi ke dalam kekatolikan arus utama.

Dalam tiga dekade terakhir, telah terjadi sebuah pergeseran dalam Gereja Katolik global. Pusat gravitasi di dunia kekristenan telah pindah dari Barat ke Selatan.

Hal ini, kata Ilo, tidak hanya berkaitan dengan Gereja Katolik Afrika, tetapi untuk kekristenan Afrika pada umumnya. Ia mengutip ahli misiologi Inggris, Andrew Walls, yang mengatakan bahwa umat Kristen Afrika harus dilihat sebagai komponen utama dari perwakilan kekristenan kontemporer, standar kekristenan zaman sekarang, sebuah model demonstrasi dari karakter kekristenan itu sendiri. “Artinya, kita perlu melihat Afrika dewasa ini dalam rangka memahami kekristenan itu sendiri.”

Menurut Ilo, itulah pandangan yang dianut banyak orang yang menyaksikan pertumbuhan eksponensial dan keragaman dari kekristenan Afrika pada saat Gereja Katolik sedang sekarat di jantung Eropa, yang melemah karena sejumlah kasus pelecehan seksual, krisis kepemimpinan, dan krisis iman dan sekularisme.

Berdasarkan data terbaru, 70 persen umat Katolik sekarang hidup di Amerika (48 persen) atau di Eropa (24 persen) dan lebih dari seperempat tinggal di wilayah Asia-Pasifik (12 persen) atau di Sub-Sahara Afrika (16 persen). Untuk pertama kali dalam sejarah, Amerika Latin dan Afrika mencatat lebih dari setengah populasi umat Katolik di dunia saat ini.

Pada saat bangku-bangku dan gereja-gereja di Eropa dan Amerika Utara kosong dan banyak keuskupan menyatakan diri bangkrut, gereja-gereja di Afrika diisi melebihi kapasitas setiap hari Minggu. Saat perayaan di gereja-gereja Eropa dipandang terlalu formal, terlalu bernuansa abad pertengahan dan ritualistik, serta kurang bersukacita dan hambar, perayaan di gereja-gereja di Afrika sangat antusias, meriah, bersifat komunal, dan menyenangkan.

Ilo mengatakan, selalu ada sesuatu yang baru dan mengejutkan dalam gereja-gereja Afrika pada hari Minggu, yang mencerminkan inovasi tak terduga dan keterbukaan keyakinan dan praktik agama orang Afrika terhadap kerja Roh Kudus. “Kekatolikan Afrika membuai!” begitu Ilo mengutip kesaksian seorang warga kulit putih Kanada tentang fenomena Gereja Katolik Afrika.

Bahwa ada penurunan menakutkan dalam panggilan imamat dan kehidupan religius di Amerika Utara dan Eropa, panggilan religius justru sedang booming di Afrika dan para klerus asal Afrika kini tersebar di seluruh Eropa. Mereka membantu dalam mengevangelisasi kembali keturunan para misionaris Barat yang membawa ajaran Kristen ke Afrika.

“Kekatolikan juga merupakan sebuah pengaruh budaya yang kuat dalam pencarian terus-menurus Afrika menjawab tantangan kemiskinan, penyakit, konflik etnis dan agama, perang, masalah politik dan ekonomi, fundamentalisme radikal, dan bagaimana mengurangi dampak perubahan iklim dan bencana alam. Gereja-gereja di Afrika sedang menjadi modal sosial yang kuat yang nilai-nilainya terletak tidak hanya dalam memberikan dukungan spiritual, tetapi juga dalam memperkuat masyarakat sipil, menciptakan jaringan kesehatan di kalangan masyarakat, dan menguatkan lembaga-lembaga Afrika untuk menjaga keamanan dasar manusia bagi pembangunan integral dan berkelanjutan,” tulis Ilo.

Paus Benediktus XVI mengakui pergeseran ini. Pada November 2011, Paus Benediktus XVI berada di Contonou, Benin, untuk memperkenalkan Nasihat post-Apostolik, Africae Munus, yang berisi peta jalan dari Sinode Kedua Afrika untuk masa depan kekristenan Afrika. Paus Benediktus, antara lain, mengatakan bahwa Afrika telah menjadi paru-paru spiritual yang akan membangkitkan gereja-gereja yang tidur di Barat dan bahwa Afrika juga harus menjadi pusat pembaruan pemikiran, filsafat, dan teologi Katolik.

Paus Benediktus melihat kekatolikan Afrika dan umat Katolik Afrika sebagai tempat yang baik untuk memimpin kekristenan ke masa depan. Terpilihnya seorang paus dari Afrika tidak diragukan akan menguatkan posisi Afrika sebagai pusat baru kekatolikan dan kekristenan di dunia.

Namun, menurut Ilo, sejumlah pertanyaan mendasar adalah, apakah Gereja Katolik siap untuk menerima seorang paus kulit hitam? Akankah gereja, yang mendefinisikan dirinya universal, siap dengan konsekuensi penuh dari identitasnya dan memberikan ruang bagi sebuah realitas baru yang dapat membantu dalam menyambung kembali gereja dengan gerakan sejarah yang tampaknya telah diabikan pada masa kepausan Paus Benediktus?

Akankah Gereja Katolik menerima rasa atau merek Afrika dari kekatolikan dan akankah seorang paus dari Afrika lebih menjadi orang Roma ketimbang Afrika? Apakah seorang paus dari Afrika lebih baik dalam mengatasi tantangan yang dihadapi Afrika saat ini serta memberikan energi baru dan pembaharuan terhadap gereja yang sedang lelah di Barat?

Namun, menurut Ilo, siapa pun yang akan menjadi paus berikutnya, orang Afrika atau non-Afrika, harus memandang dirinya sebagai seorang paus bagi dunia. Dia tidak harus menjadi tawanan Vatikan atau pemikiran abad pertengahan yang Eropa sentris dari Gereja Katolik Roma atau ortodoksi. Selain itu, ia tidak harus menjadi budak bagi sejumlah struktur dan ajaran usang Gereja Katolik.

Sebaliknya, menurut Ilo, paus baru harus pergi ke ujung bumi dan menjangkau semua orang, terutama orang Katolik yang kecewa dan marjinal— perempuan yang bercerai dan pasangan suami-istri Katolik yang berpisah, kaum gay dan lesbian, korban pelecehan seksual para klerus, dan orang-orang yang merasa terasing dari gereja terkait sejumlah ajaran moral dan spiritual gereja yang tegas.

“Batas-batas diskursus etika dan doktrin sedang bergeser secara radikal. Ini harus menjadi tugas paus baru membantu untuk menjadikan Gereja Katolik sebuah komunitas iman bagi orang-orang dari beragam kalangan, sebuah gereja yang merangkul perubahan sosial dan budaya sebagai teman, dan mendorong melalui hukum dan praktiknya tentang keutamaan perbedaan,” tulis Ilo

Dengan cara ini, Gereja Katolik akan menjadi benar-benar sebuah keluarga Allah. Orang kulit hitam dan kulit putih, para kudus dan pendosa, pria dan wanita, kaum liberal dan konservatif, kaya dan miskin, gay dan hetero, semua diperlakukan sebagai anak-anak Allah yang sama, tanpa memperhatikan pangkat atau status.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s