Foto Mayor Tololiu Hermanus Willem Dotulong

12 Januari 1795: Groot-Majoor titulair KNIL (Overste) Tololiu Hermanus Willem Dotulong.
Majoor/Hukum Besar Distrik Sonder.
Komandan Serdadu Tulungan (Bantuan) Minahasa dalam menumpas Perang Jawa (Perang Diponegoro).
Menangkap Pangeran Diponegoro dalam penyergapan bulan Maret 1830.

*Antara lukisan Pangeran Diponegoro oleh Pieneman dan Raden Saleh.

Perang Jawa atau Java Oorlog yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro yang berlangsung selama 5 tahun, 1825-1830, merugikan pihak Belanda tidak kurang dari 15.000 tentara (sekitar 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa dan 7.000 pribumi) dan dana 20 juta Gulden, juga korban sipil 200.000 orang Jawa. Konon setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya. Pihak kolonial Belanda

sendiri menawarkan hadiah sebesar 50.000 Gulden bagi siapa saja yang bisa menangkap Pangeran Diponegoro.

Setahun sebelum berakhirnya perang Jawa, pemerintah kolonial Belanda mendatangkan bantuan pasukan dari Fort Amsterdam (Manado). Pasukan ini dikenal dengan nama Pasukan Tulungan yang terdiri dari sekitar 1500’an orang Minahasa, dengan pemimpin pasukannya Groot Mayoor Tololiu HW Dotulong. Pasukan inilah yang membuat Pangeran Diponegoro akhirnya “bersama” dengan Belanda pada tanggal 28 Maret 1830.
Seperti yg dikutip dari buku Jessy Wenas, 2007, Sejarah dan Kebudayaan Minahasa, hal. 51 :
“Tetapi sekarang Residen Belanda D.E.W.Pietermaat minta Minahasa untuk menolong Belanda untuk berperang di P. Jawa. Pasukan Minahasa yang disebut Tulungan (Tulung = tolong bantu), tapi lebih dikenal dengan Serdadu Manado, dibentuk setelah penandatanganan kontrak tanggal 23 Desember 1927. Minahasa diwaliki oleh Abraham Dotulong dan J. Kawilarang, dan sebagai saksi di pihak Belanda adalah Letnan A.Voges, dimana pihak Minahasa menyediakan 1421 personel. Pemimpin pasukan Minahasa adalah Mayoor Tololiu Herman Willem Dotulong (Sonder) usia 34 tahun. Ia dibantu tiga kapitein untuk setiap walak yang banyak serdadunya : Sonder-Tombasian, Kema-Kalabat, Langouwan, Tondano (Touliang-Toulimambot), Tomohon dan Saronsong. Mereka antara lain Benyamin Sigar (Langouwan), D. Rotinsulu (Tonsea), dan Polingkalim (Tondano). Setiap kapitein dibantu dua orang Letnan : dua letnan Tondano adalah H. Supit dan Alexander Wuisan, letnan Langouwan Jahanis Sangari, dan para pembantu letnan dari Tomohon adalah Mandagi, Palar, dan Mongula.”
”Mereka berangkat dengan kapal laut ke P.Jawa tanggal 29 Maret 1829 dan kembali ke Minahasa tahun berikutnya…”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s