Pengucapan syukur! Sebuah Fenomena Tou Minahasa

Tradisi perayaan “Pengucapan Syukur” sudah seutuhnya jadi fenomena kultural dari masyarakat Minahasa. Hampir semua komunitas etnis di nusantara ini, bahkan di seluruh dunia, memang masih dikenal tradisi sejenis, namun nyaris tak ada yang sama dengan yang di Minahasa dalam hal pengutamaannya, yang antara lain ditandai baku ambor abis-abisan. Dan intensitas dalam segi kesemarakan yang ditandai pesta-pora konsumsi makanan — yang dengan demikian bicara mengenai expenditas keuangan — ini berjalan selaras, dan didorong oleh, intensitas emosi yang dibutuhkan. Itulah mengapa orang-orang Minahasa yang sudah hidup jauh di rantau senantiasa menjadikan momentum Pengucapan Syukur sebagai salahsatu titik alamat kerinduan yang khas. Yang tidak dapat tergantikan oleh konsumsi hiburan lain seramai apapun, semodern apapun, di manapun.
Perayaan Thanks Giving di Amerika, misalnya. Itu jauh berbeda. Baik ideologinya, maupun dan terlebih kadar kegairahan mereka yang melakoninya. Kendati pun untuk Thanks Giving ada upaya politis yang besar dari penyelenggara negara adidaya tersebut demi menggalang nasionalisme, dengan cara melestarikan tradisi dari Zaman Pionir itu.

Pengucapan Syukur adalah seutuhnya fenomena kita. Dan itu sangat kentara dan khas bila ditampak oleh orang-orang dari luar lingkaran budaya kita. Dan yang tampak di permukaan itu hanyalah: bahwa orang Minahasa gandrung pesta, hyper-consumptive, suka hura-hura, boros. Tetapi isi sejatinya tidak demikian, tidak melulu senegatif itu. Dan yang penting digarisbawahi, menghilangkan apa yang dianggap negatif itu sama dengan menghancurkan keutuhan manusia-budaya tou Minahasa, dengan segala akibatnya!

Syukur, Kamberu Oweiiy…!
Upacara ataupun pesta pengucapan syukur ada dalam budaya semua komunitas primordial. Itu tumbuh dalam budaya agraris. Dimana manusia memperoleh sumber penghidupan langsung dari alam. Sehingga rasa syukurnya langsung diarahkan pada Sang Pencipta dan Pemelihara Alam Raya ini. Di zaman dahulu itu belum tumbuh pola pikir bahwa penghidupan manusia diperoleh melalui belajar di sekolah setingginya, meraih prestasi karir dengan usaha sendiri, dan belum bisa membeli makanan apa saja yang diimport dari negara mana saja dengan uang yang diambil dari ATM dimana setiap pemegang rekening berdaulat penuh melalui nomor PIN yang dirahasiakannya secara pribadi. Sebaliknya, bahkan benih padi dan cengkih yang ditanam oleh tangan kita sendiri pun masih sangat bergantung pada iklim serta cuaca yang siklus musimnya diatur oleh Opo Wananatas, Empung Kasuruan Wangko.

Tradisi upacara mensyukuri panen di Minahasa dapat dipastikan sudah setua masyarakat yang mendiami jazirah utara Sulawesi ini, apalagi bila diingat bahwa komunitas yang “dirintis Toar dan Lumimuut” ini datang dari lingkaran budaya yang sudah memiliki sistem religiositasnya.
Evolusi maengket sebagai ekspresi etis-estetis leluhur Minahasa, sedari mapurengkey, bahkan bentuk-bentuk sebelumnya, menjadikan upacara syukur panen sebagai salahsatu yang utama. Ini kelak terabadikan, setelah maengket dikonservasikan, pada babak Kamberu. Dari kata kan weru, makanan yang baru dipanen.

Masuknya Kristen di Minahasa tidak memberangus tradisi syukur panen, sebagaimana pemberangusan yang dilakukan atas sejumlah tradisi dan artefak budaya lainnya dari warisan leluhur Minahasa. Sebab tradisi yang sama ada dalam budaya orang Yahudi sebagaimana tercantum dalam Alkitab. Jadi malah dianggap menuruti Firman Tuhan.

Sebutan “Pengucapan Syukur” jelas baru muncul paling cepat pada abad XIX. Walau bahasa Melayu sudah mulai meluas di Indonesia Timur sejak lebih dua abad sebelumnya. Kata syukur berasal dari bahasa Arab, namun jemaat Kristen tak asing dengan itu sebab penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Melayu sudah lama membiasakan dengan bahasa Arab yang akrab dengan mayoritas penduduk nusantara, dan sekaligus karena bahasa tersebut seakar dengan bahasa asli Perjanjian Lama (Ibrani, Aram).

Syukur, Non-Economic-Animal
Rasa syukur selalu padan dengan hasil yang diperoleh. Maka tak heran ketika boom cengkih di Minahasa, tahun 1970-an, Pengucapan Syukur pun jadi amat mewah. Bahkan menuju pesta-pora hedonisme. Di tepi jalan orang meletakkan (selain nasi jaha) sangat banyak bir dan minuman mahal lainnya, bebas buat diminum atau diambil oleh siapapun yang lewat, bahkan buat dipakai mandi oleh mereka yang sudah mabuk!

Tak ayal, para tokoh masyarakat yang kritis, yang merasa amat cemas dengan praktik pemborosan luarbiasa itu, segera mengarahkan Pengucapan Syukur untuk hanya dipusatkan di gereja. Dan ungkapan syukur berupa pengeluaran uang untuk konsumsi besar itu diarahkan buat disumbangkan saja langsung ke kas gereja. Pimpinan gereja dan bahkan pemerintah mewujudkan anjuran tersebut. Sempat berlaku beberapa tahun. Tapi arahan yang berlawanan arah dengan kultur tou Minahasa itu kemudian berlalu begitu saja.

Bagaimanapun arahan pada yang baik tentu ada manfaatnya. Misalnya dulu setiap acara pengucapan Syukur ditandai dengan penjualan produk hasil bumi dengan cara lelang di gereja. Tapi itu lantas dihapus, menaati ayat teguran Yesus agar jangan berjual-beli di Bait Allah. Upaya lain untuk mengurangi biaya yaitu pelaksanaan yang dilakukan serempak di semua wilayah dalam tanggal yang sama. Pendek kata sudah macam-macam modifikasi yang dinilai terbaik.

Tapi satu yang tak berubah: nasi jaha. Penganan khas ini telah jadi simbol Pengucapan Syukur di Minahasa. Tamu bukan saja disuguhi segala makanan yang di antaranya harus ada nasi jaha, tapi pula diberi ole-ole nasi jaha. Sehingga, meski nasi jaha sekarang sudah bisa kita dapatkan setiap hari sampai di warung-warung makanan, namun orang yang pergi merayakan Pengucapan Syukur di kampung sanak dan kerabatnya pasti akan merasa komplit kalau membawa pulang meski hanya 1 buluh nasi jaha.

Besarnya angka pembiayaan dalam Pengucapan Syukur — yang biasanya hanya disebut singkat “Pengucapan” saja — sesungguhnya berkorelasi dengan rasa perkauman, nilai budaya yang menyatu dengan jati diri, dan bahkan iman. Dan semua yang disebut terakhir itu menjadi bagian dari sistem produksi ekonomi tou Minahasa. Sehingga apa yang dihitung sebagai “pemborosan” itu tidak serta-merta berarti kontra-produktif. Karena salahsatu yang khas dari nilai budaya Minahasa adalah paripurna. Keutuhan dari semua dimensi. Di luar soal kenyataannya sering tidak begitu. Tetapi kecenderungan itu selalu ada, bersifat alamiah. Dan itu jelas jauh lebih baik dibanding manusia yang hanya satu dimensi, misalnya hanya dimensi ekonomi, sehingga menjadi economic animal — yang berbahaya bagi masyarakat maupun dirinya sendiri. Jadi, syukurlah karena ada “Pengucapan”. Taintu!

Makanan tradisi pengucapan syukur:

Pengucapan Syukur – Lezatnya Nasi Jaha & Dodol

Pengucapan syukur. Pengucapan syukur merupakan tradisi masyarakat Minahasa yang mengucap syukur atas segala berkat yang telah Tuhan berikan. Biasanya pengucapan syukur dilaksanakan setelah panen dan dikaitkan dengan acara keagamaan untuk mensyukuri berkat Tuhan yang dirasakan terlebih panen yang dinikmati. Acara pengucapan syukur ini dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat suku Minahasa pada hari Minggu umumnya antara bulan Juni hingga Agustus. Saat pengucapan syukur hampir setiap keluarga menyediakan makanan untuk para tamu yang akan datang berkunjung apa terlebih makanan khas seperti nasi jaha dan dodol.

Pengucapan syukur adalah tradisi dan pesta warga Minahasa. Seperti setelah selesai panen, entah padi ataupun cengkeh. Kedua hasil pertanian inilah yang menjadi tolak ukur suatu daerah untuk menggelar Pengucapan Syukur. Menariknya, tak tanggung-tanggung semua desa di tanah Minahasa menggelar pesta Pengucapan Syukur tersebut. Namun demikian, untuk merayakannya, dipastikan banyak pengeluaran uang dalam rangka pesta orang Minahasa ini.

Hanya saja, karena ini sudah membudaya. Maka, harus diakui kalau pesta ini harus ditopang dengan kebudayaan dan menjadi kalender pariwisata. Memang diakui, bahwa PS ini tak lain hanya berfoya-foya. Namun pula, ini sudah membudaya warga Minahasa secara umum. Jadi, tak pelak kalau Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Minsel jangan tutup mata dengan hal diatas,’’ Menjadi kebiasaan lain, menjelang PS para ibu-ibu (IRT) yang ada ternyata doyan menghabiskan uang di pasar. Apa pasal, seperti membeli apa saja yang mereka inginkan. Padahal, selain menyediakan penganan khas PS yaitu kue dodol dan nasi jahe. Itu sudah cukup, selain makanan ringan yang akan disajikan keluarga untuk menyambut keluarga dan sanak saudara serta rekan dan teman untuk mencicipinya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s