Presiden Jokowi Menuju Sangihe, Puan Maharani Resmikan Jembatan Soekarno

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Puan Maharani tiba di lokasi peresmian Jembatan DR Ir Soekarno Kamis (28/5), pukul 14.05 WITA.

Kehadiran Puan didampingi langsung Wakil Gubernur Sulut Dr Djohari Kansil, para bupati dan walikota se Sulawesi Utara (Sulut).

Presiden Jokowi yang sebelumnya dikabarkan akan melakukan persemian ternyata batal. Puan Maharani yang melakukan peresmian terhadap pengoperasian Jembatan Soekarno.

Diketahui Pembangunan jembatan ini menelan anggaran hingga Rp 300.350.109.100.

Tujuan pembangunan Jembatan Soekarno  yakni bagian dari big project MOOR ( Manado Outer Ring Road), mengatasi kemacetan dalam Kota Manado, menjadi bagian penataan pusat kota, menjadi landmark kota Manado dan menunjang pariwisata. (Tribun Manado/Ferdinand Ranti)

Iklan

Panglima TNI Imbau Santoso Menyerahkan Diri jika Tidak Ingin Mati

PALU, KOMPAS.com – Panglima TNI Jenderal Moeldoko, mengimbau Santoso, gembong teroris di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, untuk menyerah kepada aparat keamanan. TNI tengah menggelar latihan gabungan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dengan kekuatan 3.200 personel di sana.

“Nanti kalau ketemu TNI ada dua risikonya, mati atau dia (Santoso) menyerahkan diri,” kata Moeldoko, di Kota Palu, Senin (30/3/2015), sesaat sebelum terbang ke Poso untuk membuka latihan perang gabungan TNI.

Santoso adalah pimpinan kelompok teroris yang diduga kuat melakukan serangkaian kasus kekerasan di Kabupaten Poso dan beberapa daerah di Provinsi Sulawesi Tengah.

Saat ini terdapat latihan PPRC di Poso dari Divisi II Komando Strategis TNI AD yang diperkuat beberapa unsur dari TNI AL, TNI AU, dan TNI AD.

Moeldoko mengatakan saat ini di Kabupaten Poso terdapat sekelompok sipil kecil dan bersenjata dan tidak boleh dibiarkan. Kelompok dimaksud adalah 20-an orang yang saat ini bersembunyi di hutan dan kerap menebar teror kepada aparat dan masyarakat.

“Kelompok itu jangan sampai dibiarkan. Kalau dibiarkan, kelompok radikal lain bisa merasa nyaman di Poso dan tumbuh besar,” ujarnya.

Dia mengatakan jika kelompok pimpinan Santoso itu dibiarkan maka kelompok radikal Negara Islam di Suriah dan Irak (NIIS/ISIS) suatu saat bisa bergabung dengan mereka.

“Saya tegaskan, tidak ada tempat untuk ISIS di Indonesia, termasuk di Poso,” kata Jenderal bintang empat ini.

Dia juga kembali menegaskan latihan perang seperti di Poso itu latihan rutin tahunan yang lokasinya bisa di mana saja. “Tapi kalau ketemu Santoso dan tidak mau menyerah, ya saya tembak,” katanya, menegaskan

Liga Arab Bentuk Kekuatan Militer Gabungan

KAIRO, KOMPAS.com — Para kepala negara yang tergabung dalam organisasi Liga Arab sepakat untuk membentuk kekuatan militer gabungan.

Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan di Sharm el-Sheikh, Mesir, hari Minggu (29/3/2015), di tengah krisis yang terjadi di Yaman dan ancaman kelompok jihadis di Irak, Suriah, dan Libia.

“Para pemimpin Arab pada prinsipnya setuju untuk membentuk kekuatan militer gabungan,” kata Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi.

Para pejabat Liga Arab akan bertemu dengan perwakilan militer negara-negara anggota untuk membahas secara lebih terperinci tentang struktur dan pembiayaan militer gabungan tersebut.

Keikutsertaan dalam kekuatan militer ini bersifat sukarela, dan para pengamat memperkirakan tak semua dari 22 negara anggota Liga Arab akan bergabung.

Bukan usul baru

Para pejabat Mesir, seperti dikutip kantor berita Associated Press, menjelaskan bahwa militer Liga Arab akan didukung oleh 40.000 tentara, pesawat-pesawat tempur, kapal-kapal angkatan laut, dan sejumlah kendaraan lapis baja.

Gagasan membentuk kekuatan militer bersama di antara negara-negara Aran bukan hal baru. Namun, baru kali ini ada penegasan bahwa para anggota sepakat untuk membentuknya.

Belum ada indikasi apakah kekuatan militer gabungan Liga Arab akan diterjunkan ke Yaman atau kawasan lain.

Saat ini, sepuluh negara pimpinan Arab Saudi bertempur di Yaman melawan pemberontak. Presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi meninggalkan negaranya setelah pemberontak Syiah Houthi berhasil merebut sejumlah daerah di Yaman.

DPRD DKI Permalukan Diri Sendiri

JAKARTA, KOMPAS.com — Dengan melakukan pengajuan hak angket, DPRD DKI dinilai tengah mempermalukan diri sendiri, apalagi jika anggaran “siluman” yang diungkapkan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama terbukti benar.

“DPRD ini sedang mempermalukan diri sendiri karena kalau anggaran siluman ini benar, maka pandangan masyarakat akan bergeser. ‘Oh DPRD ini ajukan hak angket karena mau mempertahankan anggaran siluman?'” ujar pengamat politik, Sebastian Salang, kepada Kompas.com, Jumat (27/2/2015).

Anggota Dewan diminta untuk mengingat bahwa proses penyelidikan hak angket ini dilakukan secara terbuka. Bisa saja, kata Sebastian, dalam prosesnya anggota Dewan secara tidak langsung menunjukkan apa yang mereka pertahankan.

Menurut Sebastian, bukankah DPRD DKI juga harus memiliki semangat dalam penerapan transparansi anggaran? Apakah mereka tidak ingin anggaran transparan? Namun, saat ini DPRD justru mempermasalahkan pilihan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama yang mengunakan konsep e-budgeting dalam penyusunan APBD.

Sikap mereka saat ini justru memberi kesan bahwa mereka menghambat sistem transparansi yang sedang diperjuangkan Basuki. Dalam kondisi ini, Sebastian yakin, Ahok akan tetap mempertahankan sikapnya untuk menggunakan APBD hasil e-budgeting. DPRD DKI juga mempertahankan sikap untuk hak angket. (Baca: “Dendam Politik DPRD DKI terhadap Ahok”)

Sebastian mengatakan, mereka akan adu kekuatan sehingga dengan sendirinya akan terlihat apa yang tengah diperjuangkan masing-masing pihak ini. “Jangan lupa, ke depan, prosesnya (hak angket) akan sampai terbuka. Bisa saja malah akan kelihatan apa yang sedang dipertahankan,” ujar Sebastian.

Sebelumnya, sebanyak 106 anggota DPRD DKI secara bulat mendukung penuh pengajuan hak angket kepada Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama. Adapun alasan pengajuan hak angket terkait dengan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) APBD DKI 2015. Basuki dianggap telah melakukan pelanggaran serius karena tidak mengirimkan Raperda APBD DKI 2015 yang menjadi usulan bersama anggota DPRD dan Pemprov DKI.

Pembunuh Suami Istri Ingin Minta Maaf: Tapi Apa Mereka Mau Menerima?

TRIBUNMANADO.CO.ID – Minggu (4/1), menjadi hari terakhir bagi Tedy Manoppo (38) dan Yuliana Mokoginta (35) berkumpul bersama keluarga.

Pasangan suami itu harus meregang nyawa di tangan tetangga, Veky Manopo (43) hanya gara- gara masalah pembangunan pagar rumah di Bumi Nyiur Lingkungan III Wanea Manado.

Namun menurut Veky yang menyerahkan diri kepada polisi usai membunuh Tedy dan Yuliana, aksi itu dilakukan lantaran dendam lama.

Sebelum terkapar, Tedy sempat memberi perlawanan. Veky mengibaratkan, Minggu menjelang siang itu adalah waktunya duel parang.

Veky, Senin (5/1) di tahanan Polresta Manado mengaku menyesal. Saat itu mengaku kalap, emosinya yang sudah ada di ubun-ubun, tak tertahan lagi. “Emosi saya sudah di ubun-ubun. Sudah tidak bisa tahan, sudah cukup sabar,” katanya.

Veky mengaku persoalan rencana pembangunan pagar rumah oleh korban hanyalah pemicu adu mulut. Sebelumnya, Veky memiliki masalah dengan korban. Bahkan Veky mengaku selama ini memilih bersabar.

Dan, Minggu (4/1) lalu, Tedy bersama Yuliana datang kembali untuk membicarakan pembangunan pagar rumah yang bakal menutup akses jalan Veky menuju sumur.

Ketika itu, Veky sedang memasang tirai jendela, sementara istrinya mencuci baju.

Tedy dan istri ngotot pagar harus dibangun meski menutup akses jalan. Bahkan ketika itu sudah dihadirkan pemilik awal tanah yang menerangkan adanya perjanjian  soal akses jalan selebar satu meter.

“Saya sampai katakan, kalau orang mati tetap pikul peti jalan di tanah, bagaimana ini mau tutup jalan,” kata dia.

Adu mulut makin panas dan duel pun tak terhindarkan. Menurut pengakuan Veky, saat itu Tedy pulang mengambil parang.

Tedy kemudian datang kembali dan menyerang duluan, namun dia masih bisa mengelak. Kemudian datanglah anak Veky, Rando Manopo mencoba melerai.

Namun malang bagi Rando, menurut Veky, anaknya terkena sabetan parang. Di sinilah emosi Veky memuncak dan balik menyerang menggunakan parang ke Tedy. Korban jatuh dan dia pun leluasa menyerangnya.

Veky merasa belum cukup sehingga dia mengejar Yuliana. dan Veky pun membantai Yuliana di dekat rumah seorang anggota polisi.

“Setelah itu saya menyerahkan parang, mengakui kesalahan sudah bunuh orang, serahkan diri. Kemudian minta tolong anak saya dibawa ke rumah sakit,” ujarnya.

“Saya ada niat minta maaf ke keluarga korban, tapi apa saya dimaafkan. Saya minta ampun kepada Tuhan,” kata dia.

Ia sedih memikirkan nasib istri dan empat anaknya yang bakal ia tinggal nanti ketika menjalani hukuman penjara.

Nasib keluarganya makin miris lagi kalau harus mengingat bakal kehilangan tempat tinggal di Bumi Nyiur.

Veky mengatakan, tak akan tinggal lagi di rumah itu lagi, takut keluarganya kena imbas perbuatannya.

Kepala Lingkungan III Kelurahan Bumi Nyiur Kecamatan Wanea Manado Musa kaget saat sedang beribadah di gereja, Minggu (4/1), tiba-tiba ditelepon lurah, di lingkungannya telah terjadi pembunuhan.

Sekitar pukul 16.30 Wita, ia baru tiba di tempat kejadian perkara. “Saya baru tahu ini, kebetulan Lurah bilang ada kejadian, tapi belum sempat datang karena ada acara gereja,” ujarnya, kemarin.

Ia pun kemudian mencari tahu penyebab pembunuhan itu. Menurut warga setempat yang saat itu terkumpul di sekitar TKP, kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 11.00 Wita.

“Sejak lama di situ (TKP) sering terjadi perselisihan masalah sipat (sengketa lahan),” ujar seorang warga.

Yang berselisih dua keluarga yang sama dalam penyebutan namun beda dalam penulisan, yakni antara keluarga Manopo dan keluarga Manoppo.

Menurut warga, Tedy dibacok di depan rumah Veky. Tedy sempat berjalan hingga tewas di bawah pohon mangga yang tidak jauh dari rumah korban dan tersangka.

Usai membacok Tedy, Veky pun mengejar Yuliana yang sedang berlari menuju ke rumah seorang anggota polisi. Di dekat rumah polisi itulah Veky membantai Yuliana.

Analisis Awal: AirAsia QZ8501 Terlambat Naikkan Ketinggian?

JAKARTA, KOMPAS.com – Pada waktu yang berdekatan dengan hilang kontaknya pesawat AirAsia QZ8501, Minggu (28/12/2014), ada lebih dari satu penerbangan yang melintas di jalur penuh awan tersebut. Namun, posisi AirAsia QZ8501 berada pada posisi terendah di ketinggian jelajah, dibandingkan pesawat lain.

“Semua pesawat lain berada di ketinggian lebih dari 34.000 feet, ketinggian saat pesawat QZ8501 disebut hilang kontak,” kata pemerhati penerbangan, Yayan Mulyana, Minggu petang. Pada saat pesawat ini hilang kontak, lanjut dia, beragam perangkat pelacak pesawat memperlihatkan ada banyak pesawat lain di jalur itu.

Yayan menyebutkan, ada setidaknya empat pesawat lain yang berdekatan dengan QZ8501 pada saat itu, yakni Garuda Indonesia berkode penerbangan GIA602, pesawat Lion Air berkode LNI763, AirAsia berkode penerbangan QZ502, dan Emirates berkode penerbangan UAE409.

Dari data yang Yayan dapatkan, ketinggian GIA602 adalah 35.000 kaki, LNI763 38.000 kaki, QZ502 38.000 kaki, dan UAE409 35.000 kaki. “Kontak terakhir disebut QZ8501 minta menambah ketinggian 6.000 feet dari 32.000 feet. Kemungkinan pilot langsung menaikkan ketinggian, tidak memutar dulu misalnya, tetapi tidak terkejar untuk menghindari awan CB.”

Sebelumnya diberitakan, lokasi di posisi terakhir kontak pesawat AirAsia berkode penerbangan QZ8501 dipenuhi awan cumulonimbus, yang di kalangan praktisi dan akademisi kerap disebut dengan singkatan “CB”. (Baca juga: BMKG: AirAsia QZ8501 Berhadapan dengan Awan Kumulonimbus hingga 48.000 Kaki).

Penting, transkrip terakhir

Menurut Yayan, yang sebelumnya lama menjadi praktisi penerbangan penerbangan ini, keberadaan awan CB sebenarnya bisa diketahui berpuluh-puluh mil sebelumnya.

“Tergantung versi radar di pesawat. Harusnya cukup waktu untuk menghindar. Bisa dapat informasi pula dari pesawat lain yang melintas di situ sebelumnya, bisa komunikasi langsung dengan menara kontrol maupun pesawat lain yang saat itu terbang,” papar Yayan.

Namun, Yayan menolak menjawab kenapa sampai pesawat ini diduga terlambat menambah ketinggian ketika berhadapan dengan awan CB. (Baca juga: AirAsia Q8501 Tidak Diizinkan Naik ke Ketinggian 38.000 Kaki, Ini Alasannya).

Ketiadaan kode darurat pilot, menurut Yayan, sangat mendukung dugaan pesawat terjebak dalam kungkungan awan CB. “Itu awan, tapi berat karena ada butiran es. Bisa merusak instrumen pesawat, dari komunikasi sampai strukturnya,” ujar dia. “Kalau sudah begitu, selain alat rusak, kemungkinan pilot sudah sangat panik bahkan untuk sekadar bilang ‘Mayday’,” tutur dia.

Yayan menambahkan kemungkinan pesawat rusak karena tersambar petir justru kecil. Dia mengatakan, pesawat yang dipakai AirAsia ini memakai empat lapis sistem pengaman elektrik, sehingga gangguan listrik bahkan ledakan di pesawat tidak akan serta-merta mematikan pasokan listrik. “Setidaknya, pilot masih akan sempat bilang ‘Mayday’,” kata dia.

Ketiadaan panggilan dan sinyal darurat dari pesawat, menurut Yayan, menunjukkan pesawat pada situasi yang sangat berat, dengan kejadian teramat cepat yang merusak peralatan komunikasi dan kemungkinan pesawat itu sendiri.

Namun, tegas Yayan, sampai pesawat ditemukan atau data transkrip setengah jam terakhir dibuka kepada publik, apa yang terjadi pada pesawat ini masih dugaan. “Transkrip setengah jam terakhir dari kokpit, itu sangat penting,” tegas dia. Yayan menegaskan pula, transkrip ini dan nanti data kotak hitam yang bakal “bercerita banyak” soal kejadian ini.

Pencarian

Adapun pencarian, menurut Yayan, seharusnya tidak bertemu banyak kendala. Dia menyatakan sekarang sudah ada teknologi yang jauh lebih bagus daripada radar yang dipakai di bandara, yakni radar yang langsung terhubung dengan satelit.

Alat yang dimaksud Yayan adalah Automatic Dependent Surveillance – Broadcast (ADS-B). “Dan pesawat ini sudah ada alat itu. Tinggal aktifkan alat pencarian yang tepat, seharusnya bisa cepat ditemukan.” Terlebih lagi, lokasi posisi terakhir yang disebutkan Badan SAR Nasional, bukanlah laut dalam, kedalamannya sekitar 150 meter.

“Kalaupun ada kendala, kemungkinan seperti pencarian Silk Air beberapa waktu lalu di Sungai Musi, yang saking cepatnya menghunjam sampai masuk ke dalam lumpur,” ujar Yayan. Dia mengakui, ketiadaan laporan darurat setelah berjam-jam, mengecilkan kemungkinan pesawat mendarat darurat di suatu tempat, terlebih lagi jalur yang dilintasi bukan area tertutup.

Data yang dirilis otoritas penerbangan maupun penangangan bencana, lanjut Yayan, memperlihatkan pesawat tidak meninggalkan jalur penerbangan, sekalipun sempat berpindah. Kementerian perhubungan, sebut dia, menyebutkan terakhir kali posisi pesawat ini berada di koridor M635.

Koridor ini masih segaris dengan laporan saksi mata soal dugaan pesawat jatuh di Belitung Timur, dan masih mengarah ke Singapura. “Kejadiannya kemungkinan besar memang sangat mendadak, karena sejauh ini penerbangan terlihat masih on track.”

Informasi soal jalur yang dipakai terakhir kali dan laporan saksi mata tersebut, menurut Yayan menjelaskan posisi yang terpantau di Flightradar24 adalah posisi saat terakhir komunikasi pesawat, tetapi masih ada luncuran beberapa puluh terakhir sampai ke posisi terakhir yang sebenarnya. “Kalau pesawat meledak, posisinya akan sama dengan posisi komunikasi terakhir.”

Taliban Pakistan Rilis Foto 6 Penyerang Sekolah di Peshawar

ISLAMABAD, KOMPAS.com — Taliban Pakistan, Rabu (17/12/2014), merilis foto enam orang bersenjata pelaku penyerbuan sebuah sekolah di Peshawar dan menewaskan 148 orang, di mana 132 korban tewas adalah anak-anak.

Dalam foto yang dirilis Taliban itu terlihat enam atau tujuh orang pria membawa senapan serbu berada di depan sebuah spanduk berwarna putih. Dalam salah satu foto, seperti dikabarkan kantor berita AP, keenam orang itu berfoto bersama dengan seorang pemimpin Taliban setempat.

Selain merilis foto keenam orang itu, Taliban mengatakan, serangan tersebut bisa dibenarkan karena angkatan darat Pakistan juga membunuh anak-anak dan keluarga para anggota Taliban.

Juru bicara Taliban Pakistan, Mohammad Khurasani, juga bersumpah akan menggelar lebih banyak serangan dan memperingatkan warga Pakistan agar menjauhi lokasi-lokasi yang memiliki kaitan dengan militer.

“Kami masih mampu melakukan serangan lebih besar. Serangan ini baru permulaan,” kata Khurasani.

Sementara itu, keluarga korban sudah memakamkan mereka yang tewas. Angka korban tewas menjadi 148 orang setelah jasad kepala sekolah Tahira Qazi ditemukan di antara puing-puing bangunan sekolah.

Juru bicara militer Mayor Jenderal Asim Bajwa mengatakan, Tahira sedang berada di ruangannya ketika para penyerbu memasuki gedung administrasi. Bajwa mengatakan, Tahira bersembunyi di kamar mandi, tetapi akhirnya tewas setelah sebuah granat dilemparkan melalui lubang ventilasi ke kamar mandi itu.

Mayjen Bajwa menambahkan, sebagian besar pelajar tewas ditembak saat mereka berusaha kabur. Sebanyak 100 jasad ditemukan di ruang auditorium sekolah. “Kami juga menerima laporan beberapa guru perempuan dibakar hidup-hidup dalam penyerangan itu,” ujar Bajwa.

Pemerintah Pakistan memutuskan masa berkabung selama tiga hari dan Perdana Menteri Nawaz Sharif memutuskan untuk mencabut moratorium hukuman mati seusai tragedi berdarah di Peshawar itu.